RSS
RAN ALTURA GRADUATE

Selasa, 08 Januari 2013

Larangan Meminta-minta


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hadits Larangan Meminta-minta[1]
حَدِيْثُ حَكِيْمِ ابْنِ حِزَامٍ رَضِيَ الله عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلّم، قَالَ :           (اليَدُالعُلْيَاخَيْرٌمِنَ اليَدِالسُفْلَى، وَابْدَأْبِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُالصَّدَقَةِعَنْ ظَهْرِغِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ) أخرجه البخارى فى : ۲٤- كتاب الزكاة : ۱۸- باب لاصدقة إلاعن ظهرغنى
Hakiem bin Hizam r.a. berkata: Nabi saw. bersabda: Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah dan mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah ialah yang dilakukan dalam keadaan berkemampuan dan barang siapa yang memelihara dirinya daripada meminta-minta, nescaya Allah akan memelihara kehormatannya; dan barang siapa yang merasa berkemampuan, nescaya Allah akan memberinya kecukupan.” (Muttafaq ‘alaih)
حَدِيْثُ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّم : (لَأَنْ يَحْتَتِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةًعَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌمِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًافَيُعْطِيَهُ أَوْيَمْنَعَهُ)    أخرجه البخارى فى : ۳٤- كتاب البيوع : ۱۵- باب كسب الرجل و عمله بيد       
Abuhurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Jika seorang itu pergi mencari kayu, lalu diangkat seikat kayu di atas punggungnya (yakni untuk dijual di pasar) maka itu lebih baik baginya daripada minta kepada seseorang baik diberi atau ditolak. (Bukhari, Muslim)”.
2.2 Makna Hadis
Rasulullah (s.a.w) mengutamakan tangan yang memberi di atas tangan yang meminta dan memerintahkan orang yang membelanjakan hartanya supaya memulainya untuk diri sendiri, kemudian anak dan isterinya, lalu untuk keluarga dan kaum kerabatnya yang paling dekat. Dari satu sisi Nabi (s.a.w) menganjurkan para hartawan untuk menyedekahkan sebahagian hartanya yang tidak dia perlukan, tetapi dari sisi yang lain pula baginda menganjurkan kaum fakir miskin menahan diri daripada meminta-minta untuk memelihara kehormatan mereka. Baginda menjelaskan kepada mereka bahawa barang siapa yang meminta kehormatan dan kemuliaan kepada Allah, nescaya Allah akan memberinya jalan untuk meraihnya. Barang siapa yang mencari jalan agar dia tidak meminta-minta kepada orang lain, nescaya Allah akan membukakan jalan kepadanya dan menganugerahkan kepadanya penyebab-penyebab yangmenjadikannya berkemampuan, memperoleh kehormatan, dan kemuliaan.[2]
2.3 Analisis Lafaz
اليَدُالعُلْيَا"”, maksudnya ialah tangan orang yang memberi sedekah. Ini mengikut pendapat yang paling kuat, kerana Nabi (s.a.w) sendiri yang mentafsirkannya. Menurut pendapat lain, maksudnya ialah tangan yang tidak mahu menerima. Menurut pendapat yang lain lagi, maksudnya ialah tangan yang menerima tanpa meminta-minta.
خَيْر, lebih utama. Lafaz ini berkedudukan sebagai khabar dan lafaz “اليَدُ” yang berkedudukan sebagai mubtada’, sedangkan lafaz “العُلْيَا  ” berkedudukan sebagai sifat kepada lafaz “اليَد
مِنَ اليَدِالسُفْلَى”, menurut pendapat yang paling kuat adalah “tangan yang menerima”. Pendapat yang lain menyatakan “tangan yang tidak mahu memberi.” Menurut pendapat yang lain lagi, “tangan yang meminta.”
 “وَابْدَأْبِمَنْ تَعُوْلُ”, mulailah memberikan sedekahmu kepada orang yang wajib engkau nafkahi. Oleh itu, janganlah engkau menyia-nyiakan mereka dan jangan pula mengutamakan orang lain ke atas mereka.
وَخَيْرُالصَّدَقَةِعَنْ ظَهْرِغِنًى"” sedekah yang paling utama ialah sedekah yang dikeluarkan oleh seseorang dari hartanya setelah menyisakan untuk keperluannya sendiri, agar kehidupannya tetap berjalan dengan baik dan memberinya kecukupan hingga tidak perlu meminta-minta kepada orang lain, kerana orang yang menyedekahkan seluruh harta miliknya sering kali menyesali perbuatannya pada saat tidak ada gunanya lagi untuk penyesalan. Lafaz “ظهر” ditambahkan ke dalam kalimat ini untuk mengukuhkan makna dan memberikan keluasan pengertian. Sabda Nabi (s.a.w): “عَنْ ظَهْرِغِنًى” bermaksud “غِنًى عَنْ” (dalam keadaan berkemampuan).
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ"”, barang siapa yang memelihara kehormatan dengan menjauhi perbuatan meminta-minta dan menerima apa adanya, nescaya Allah akan memberinya rezeki berupa kehormatan dan dapat menahan diri daripada perbuatan haram.
وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ"”, barang siapa yang memperlihatkan sikap berkemampuan dengan cara tidak mengharapkan harta orang lain, nescaya Allah memberinya rezeki berupa sifat qana’ah di dalam hatinya dan berkemampuan hingga tidak memerlukan bantuan orang lain.[3]
2.4 Fiqh Hadis
1.      Dianjurkan untuk berinfak.
2.      Keutamaan tangan yang memberi di atas tangan yang meminta.
3.      Celaan terhadap perbuatan meminta-minta dan peringatan supaya tidak melakukan perbuatan hina itu.
4.      Dianjurkan bersedekah kepada kaum kerabat dan bersilaturahim.
5.       Hartawan dianjurkan untuk bersedekah.
6.      Sedekah yang paling utama ialah apabila seseorang sentiasa dalam keadaan berkemampuan setelah mengeluarkan sedekahnya, tanpa memerlukan bantuan orang lain setelah bersedekah.
7.      Orang miskin dianjurkan untuk memelihara kehormatannya dan tidak meminta-minta kepada orang lain serta bertawakal yang penuh keyakinan kepada Allah (s.w.t).[4]


2.5  Penjelasan Larangan Meminta-minta
Mengemis atau meminta-minta di-istilahkan dengan bahasa Arab sebagai “tasawwul ” Dalam Al- Mu’jamul Wasith disebutkan  :
“Tasawwala  (bentuk fi’il madhy  dari  tasawwul)  artinya  meminta-minta  atau  meminta pemberian ”.[5] Tasawwul  atau  meminta-minta  yang  dicela  adalah  meminta  harta  orang  lain  untuk kepentingan sendiri atau pribadi.                                         Al-Allamah Abdur Rauf Al-Munawi  Rahimahullah berkata: “Sabda beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam (Sesungguhnya meminta-minta) maksudnya adalah menuntut dari manusia agar mereka memberikan sebagian harta mereka untuk dirinya ”.[6]                                                                                                               Al-Allamah  Muqbil  Al-Wadi’i Rahimahullah juga  menerangkan  batasan  tasawwul  dalam  kitab Dzammul Mas’alah (Tercelanya Meminta-Minta):“Kelompok kedua (dari orang yang buruk  dalam  penggunaan  harta): adalah  kaum  yang berusaha mencuri untuk mengambil harta zakat padahal mereka bukanlah golongan yang berhak  menerimanya. Kemudian  harta  itu  mereka  gunakan  untuk  kepentingan  pribadi mereka”.[7]                                                         Mengemis atau  tasawwul juga bisa diartikan dengan upaya  meminta harta orang lain bukan  untuk  kemaslahatan  agama  melainkan  untuk  kepentingan  pribadi. Al-Hafizh  Ibnu Hajar Rahimahullah berkata: “Perkataan  Al-Bukhari (Bab Menjaga Diri dari Meminta-minta) maksudnya adalah  meminta-minta sesuatu selain untuk kemaslahatan agama ”.[8]                                                                                     Dari keterangan di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa batasan  tasawwul atau “mengemis”  adalah  meminta  untuk  kepentingan  diri sendiri bukan  untuk  kemaslahatan agama.
2.      Meminta Untuk Kepentingan Kaum Muslimin

Jika  seseorang  meminta  harta  untuk  disalurkan kepada  orang  yang  membutuhkan atau  meminta  bantuan  untuk  kepentingan  kaum  muslimin  -bukan  untuk  kepentingan  diri sendiri- maka dia tidak termasuk orang yang tasawwul walaupun dia adalah orang kaya.
Di antara pesan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada para pemimpin perang ketika sebelum berangkat adalah perkataan beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam:
“ Jika mereka (orang-orang  kafir  yang  diperangi,  pen)  tidak  mau  masuk  Islam  maka mintalah Al-Jizyah dari mereka! Jika mereka memberikannya maka terimalah dan tahanlah dari (memerangi, pen)  mereka! Jika  mereka  tidak  mau  menyerahkan  Al-Jizyah  maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka!” (HR. Muslim: 3261, Abu Dawud: 2245, Ibnu Majah: 2849)
Al-Mulla Ali Al-Qari  Rahimahullah berkata: “(Maka  mintalah  dari mereka) dengan Hamzah dan perpindahannya (dalam I’lal, pen) maksudnya adalah mohonlah dari mereka Al-Jizyah ” (Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih: 12/71)
Maka dari hadits di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa  meminta Al-Jizyah dari orang-orang  kafir     tidak  termasuk  tasawwul  karena  Al-Jizyah  bukan  untuk  kepentingan pribadi tetapi untuk kaum muslimin.
Al-Allamah Asy-Syinqithi  Rahimahullah berkata: “ Jika Al-Jizyah  telah  diambil  (dan  diletakkan)  ke  baitul  mal  kaum  muslimin, maka  penulis Zadul Mustaqni’ menjelaskan bahwa Al-Jizyah  diperuntukkan  pada  pos-pos  umum  kaum muslimin, sebagaimana yang telah kami sebutkan ” (Syarh Zadul Mustaqni’: pertemuan ke-138 halaman: 14)
Termasuk  dalam  pengertian  meminta  bantuan  untuk  kepentingan  kaum  muslimin adalah perkataan Dzulqarnain: “ Dzulqarnain  berkata: “Apa  yang  telah  dikuasakan  oleh  Rabbku  kepadaku  terhadapnya adalah  lebih  baik, maka  bantulah  aku  dengan  kekuatan,  agar  aku  membuatkan  dinding antara kalian dan mereka ”  (QS. Al-Kahfi: 95)
Al-Allamah Asy-Syaukani  Rahimahullah berkata:
“(Maka  bantulah  aku  dengan  kekuatan)  maksudnya  dengan  tenaga  laki-laki kalian  yang bekerja dengan tenaga mereka, atau bantulah aku dengan alat-alat bangunan atau dengan kedua-duanya ” (Fathul Qadir: 4/426)
Dzulqarnain  tidak  bisa  dikatakan  telah  melakukan  tasawwul  atau  mengemis  –sebagaimana  Kaidah  jahil  Si  Abul  Husain-  karena  dia  meminta  bantuan  bukan  untuk kepentingan pribadi.
Yang semisal perkataan Dzulqarnain adalah perkataan Abu Bakar Ash-ShiddiqRadhiyallaahu ‘anhu ketika beliau dibaiat menjadi khalifah. Beliau berkata:  “Amma ba’du Wahai manusia! Sesungguhnya aku menjadi pemimpin kalian dan aku bukanlah orang yang terbaik di atara kalian. Maka jika aku benar  maka bantulah aku! Dan jika aku berbuat salah maka luruskanlah aku!” (Al-Bidayah wan Nihayah: 5/269) Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah meminta bantuan seorang tukang kayu untuk membuatkan beliau mimbar Sahl bin Sa’d As-sa’idi Radhiyallaahu ‘anhu berkata: “ Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus kepada seorang wanita: “ Perintahkan anakmu yang tukang kayu itu untuk membuatkan untukku sebuah mimbar sehingga aku bisa duduk di atasnya!” (HR. Al-Bukhari: 429, An-Nasa’i 731 dan Ahmad 21801)
Al-Imam Al-Bukhari  Rahimahullah berkata: “Bab : Meminta bantuan kepada tukang kayu dan ahli pertukangan lainnya untuk membuat kayu-kayu mimbar dan masjid ” (Shahihul Bukhari: 2/235)
Al-Imam Ibnu Baththal  Rahimahullah berkata: “Di dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang  bolehnya  meminta  bantuan  kepada  ahli pertukangan dan ahli kekayaan untuk segala hal yang manfaatnya meliputi kaum muslimin. Dan orang-orang yang bersegera melakukannya adalah disyukuri usahanya ” (Syarh Ibnu Baththal lil Bukhari: 2/100)
Sehingga  kita  boleh  mengatakan: “ Bantulah aku membangun masjid ini atau madrasah ini dan sebagainya!”  atau  meminta  sumbangan  kepada  kaum  muslimin  yang mampu untuk membangun masjid, madrasah dan sebagainya.
2.6  Contoh Fenomena Masa Kini
            Fatwa Apakah Boleh meminta minta untuk membangun masjid?                              Al-Lajnah Ad- Daimah lil Buhuts wal Ifta’ Saudi Arabiyyah pernah ditanya: Tanya “ Bolehkah meminta bantuan dari seorang muslim untuk membangun masjid atau madrasah, apa dalilnya?” Jawab “ Perkara tersebut diperbolehkan, karena termasuk dalam tolong -menolong di atas kebaikan  dan  taqwa. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman:“ Dan tolong-menolonglah  kalian  dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran ” (QS. Al-Maidah: 2) [9]                            Memang pada itinya boleh meminta kalo untuk kepentingan umat Islam tapi dengan cara yang baik dan sopan, tidak memungut bantuan di tengah jalan atau di dalam bis kotas eperti yang sering kita saksikan di sekitar kita. Hal seperti itu malah akan dapat menjatuhkan martabat umat Islam sendiri.


[1] Hadits nomor 613 dan 618 dari kitab Lu’lu wal Marjan
[2] Ibanatul Ahkam jilid 2 halaman 260
[3] Ibanatul Ahkam jilid 2 halaman 260
[4] Ibanatul Ahkam jilid 2 halaman 261
[5] Al-Mu’jamul Wasith: 1/465
[6] Faidhul Qadir: 2/493
[7] Dzammul Mas’alah: 31
[8] Fathul Bari: 3/336
[9] Sumber : E-book “Memerangi (yayasan)Salafi, Membela & Memuliakan si Pencuri Manhajnya Siapa?” Hal.82-89 ditulis oleh Abdullah bin Abdurrahman

0 komentar:

Posting Komentar